Senin, 26 Oktober 2020

Millenial : Antara Tantangan dan Kebutuhan Mencintai Diri Sendiri

 

     “Self-love is the primary relationship you’ll have in your life. The more you develop this relationship the more fulfilling your life will be”. (Dr. Aaron Krasnow)

            Hidup sempurna dengan memiliki wajah dan tubuh yang indah, rumah mewah, dan memiliki segalanya adalah dambaan semua orang. Hidup dengan nyaris sempurna. Namun, dongeng tetaplah dongeng. Tidak akan ada pangeran berkuda putih yang datang dan mengubah kehidupanmu menjadi “live happily ever after”.

            Di era millenial seperti sekarang ini, kita dapat dengan mudah saling melihat kehidupan masing-masing melalui sosial media. Orang-orang memposting aktivitas, hobi, rumah, dan diri mereka dengan bebas. Lalu, mucullah masalah baru, dimana postingan di sosial media yang sebenarnya hanya merepresentasikan bagian kecil dari kehidupan seseorang, mejadi dambaan kehidupan orang lain. Kita berusaha untuk membuat diri kita setara atau terlihat sama dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih “sempurna” dari kita, padahal diri kita tidak mampu. Akhirnya, standar kesempurnaan yang dibuat oleh kita sendiri memperumit kehidupan yang memang sudah jatuh bangun kita merangkainya.

            Maka, hal ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi generasi millenial. Di antara kecamuk batin dan keinginan-keinginan untuk tampil sesuai standar yang orang-orang buat, menjadi sumber kesenangan orang lain, menjadi kita dibawah tekanan yang pada akhirnya akan membuat kita stress dan hilang arti ketika tak dapat mewujudkannya. Kita butuh berhenti dan mulai untuk mencintai diri sendiri atau self-love.

            Mencintai diri sendiri adalah rasa penerimaan terhadap diri kita apa adanya. Kita menerima segala hal yang sudah diri kita miliki, entah itu strenght atau weakness, kita harus sadari bahwa semua itu adalah diri kita. Sama halnya ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita pasti selalu ingin menjaganya, memastikan kesehatannya, memastikan ia tidak terluka, dan memastikan ia selalu bahagia. Seperti itu pula mencintai diri sendiri. Keinginan untuk memeluk dan menerima diri kita harus menjadi prioritas dalam kehipuan masing-masing. Sebab bagaimanapun, sesempurna apapun kehidupan yang kita lihat dari orang lain, akan memiliki cacat yang berusaha mereka sembunyikan sendiri-sendiri.

            Hal ini selarasa dengan teori yang dikemukakan salah seorang psikiater Swiss, Carl Gustav Jung, yang terkenal dengan teori psikonalisisnya. Ia membagi diri manusia menjadi tiga level, persona, shadow,dan the self. Persona atau topeng adalah wajah yang ingin kita tampilkan pada dunia. Dengan kata lain, kita ingin menjadi seseorang dengan standar yang ditentukan mayoritas orang. Bahwa memiliki tubuh langsing, kulit putih, dan wajah mulus itu cantik. Bahwa selalu tertawa, tak pernah terlihat susah adalah tanda orang yang memiliki kehidupan yang sempurna. Padahal, jauh di dalam diri mereka, tersimpan memori buruk, kekhawatiran, ketakutan, dan hal tak menyenangkan lainnya yang ingin mereka sembunyikan dari selain mereka. Hal ini yang kemudian dinamakan shadow atau bayanga. Sebagaimana orang yang memakai topeng, bayangan dari diri yang sesungguhnya tersembunyi di balik topeng yang mereka kenakan. Di antara dua hal baik dan buruk ini, ada satu sisi dalam diri kita yang menjadi penengah. Menjadi malaikat bagi diri kita, yaitu the self atau penerimaan diri. Ia menjadi pengontrol diri. Seseorang yang sudah mencapai level ini, akan lebih menerima segala hal baik dan buruk dalam dirinya. Memeluk segala luka, dan lebih mudah pula mengapresiasi diri.

            Begitulah self-love dibangun. Mungkin, untuk memulai mencintai diri sendiri tidaklah semudah kedengarannya. Kita lebih mudah mencintai hal-hal indah, daripada hal buruk yang tampak dan nyata. Kita lebih mudah bahagia dengan pujian dan pengakuan dari orang lain. Kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, sehingga ketika mereka pergi, kita hancur dan patah. Perlahan, mulailah membuka pikiran, melihat lebih luas dan lebih dalam pada diri sendiri. Berhenti membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain. Tentukan kebahagiaan, kebebasan, dan perkembanganmu atas hidupmu sendiri. Kamu yang lebih tahu dirimu. Setiap orang sedang berjuang dengan jalannya masing-masing. Tak mudah memang, tapi mari berjuang bersama. Apresiasi dirimu yang sudah bertahan denganmu sejauh ini. Love yourself J

 

            Widatul Fajariyah, a person, definitely a woman, who plants memories in her garden, whether it is sweet, or bitter sweet.

 

Senin, 19 Oktober 2020

BEDAH BUKU STRAWBERRY GENERATION KARYA PROF. RHEYNALD KASALI

 

CATATAN BEDAH BUKU

STRAWBERRY GENERATION KARYA PROF. RHEYNALD KASALI

RESEARCH AND DEVELOPMENT (RND)

7 OKTOBER 2020




A.   Biografi Penulis[diambil dari Wikipedia]

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. (lahir di Jakarta, 13 Agustus 1960; umur 60 tahun) adalah akademisi dan praktisi bisnis asal Indonesia. Ia juga merupakan guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Rhenald Kasali dikukuhkan sebagai guru besar pada 4 Juli 2009.

Karier dan Kehidupan

Rhenald Kasali adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain bergerak sebagai akademisi, pria bergelar Ph. D. dari University of Illinois ini juga produktif menulis. Buku-buku yang ditulisnya selalu menjadi perhatian kalangan bisnis dan dikoleksi oleh banyak orang dan hampir semua bukunya menjadi best seller.

Berikut beberapa buku yang telah ditulis Prof. Rhenald Kasali .

·         Sembilan Fenomena Bisnis - 1997

·         Membidik Pasar Indonesia: Segmentasi, Targeting dan Positioning, Gramedia Pustaka Utama (1998)

·         Sembari Minum Kopi Politiking di Panggung Bisnis, Gramedia Pustaka Utama

·         Sukses Melakukan Presentasi, Gramedia Pustaka Utama (2001)

·         Change!, Gramedia Pustaka Utama (2009)

·         Recode Your Change DNA, Gramedia Pustaka Utama (2007)

·         Mutasi DNA Powerhouse, Gramedia Pustaka Utama (2008)

·         Wirausaha Muda Mandiri, Gramedia Pustaka Utama (2010)

·         Myelin: Mobilisasi intengibles sebagai kekuatan perubahan, Gramedia Pustaka Utama (2010). Buku ini menjadi rujukan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia

·         Cracking Zone, Gramedia Pustaka Utama (2011)

·         Cracking Value, Gramedia Pustaka Utama (2012)

·         Camera Branding, Gramedia Pustaka Utama (2013)

·         Lets Change - Kepemimpinan, Keberanian, dan Perubahan, Penerbit Buku Kompas (2014)

·         Self Driving, Mizan Publishing (2014)

·         From One Dollar to Billion Dollars Company, Penerbit Buku Kompas (2014)

·         Agility: Bukan Singa yang Mengembik, Gramedia Pustaka Utama (2015)

·         Change Leadership, Non-finito, Mizan (2015)

·         Reinventing, Mizan (2016)

·         Curse To Blessing, Mizan (2016)

·         Baper, Naora Books (2017)

·         Disruption, Gramedia Pustaka Utama (2017)

·         Strawberry Generation, Mizan (2017)

·         Tomorrow Is Today, Mizan (2017)

·         Self Disruption, Mizan (2018)

·         The Great Shifting, Gramedia Pustaka Utama (2018)

·         #MO, Mizan (2019)

Selain mengajar di Universitas Indonesia, ia juga menjadi dosen terbang di Program Magister Manajemen Universitas Sam Ratulangi, Universitas Tanjungpura, Universitas Udayana, dan Universitas Lampung.

Pemikiran

Bagi Rhenald, bisnis adalah perihal membuat sesuatu menjadi hal yang luar biasa, itulah bisnis. Dalam pengembangkan bisnis, ia menegaskan bahwa pola pikir kewirausahaan (entrepreneurship) diperlukan, bukannya keberuntungan (luck). Rhenald mengatakan bahwa kewirausahaan bukanlah ada sendiri, tetap harus diciptakan.

Baginya, keberuntungan sebenarnya adalah ketika kesempatan bertemu dengan persiapan. Artinya, keberuntungan sendiri tampaknya mempunyai sifat yang sama dengan kewirausahaan yang pada dasarnya “diciptakan”. Keberuntungan tidak akan datang dengan sendirinya. Keberuntungan ada karena ada usaha sebelumnya. Dari sinilah dapat dipahami betapa pentingnya latihan yang terus menerus dan pantang menyerah oleh mereka yang ingin terjun dalam dunia bisnis.

Akan tetapi, seorang wirausahawan (entrepreneur) harus melakukan reinvestasi. Baginya, tujuan orang berwirausaha bukan untuk menjadi kaya, karena kaya hanyalah akibat. Rhenald menyatakan bahwa seorang wirausahawan yang hanya menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama dalam berwirausaha adalah bentuk pengkhianatan terhadap kewirausahaan.

Dalam buku terbarunya, Myelin: Mobilisasi Intengibles sebagai Kekuatan Perubahan (Gramedia Pustaka Utama, 2010)Rhenald menyatakan bahwa myelin (muscle memory) sebagai faktor penting untuk menjembatani gagasan yang dihasilkan "brain memory" bisa sampai di tujuan dengan "mengendarai" myelin yang terlatih. Artinya, tidak ada keraguan atas kecerdasan sumber daya manusia Indonesia. Sebagai contoh, sudah banyak anak-anak Indonesia yang memenangi olimpiade fisika atau matematika dunia. Namun, Rhenald menegaskan bahwa pengetahuan saja tidaklah cukup untuk meraih kesuksesan. Kunci kesuksesan adalah terus berlatih. Semakin sering berlatih maka jaminan untuk sukses semakin nyata.

B.   Epistemologi Buku Strawberry Generation

1.    Judul – Why Must Be ?

Penulis memilih judul Strawberry Generation karenan melihat generasi sekarang seperti buah strawberry, strawberry itu indah, tapi dia mudah terkoyak lalu hancur. Begitu halnya dengan generasi sekarang yang lebih mengikuti style kekinian yg indah tapi tidak bermental baja, mereka tidak mampu menghadapi masalah, mudah menyerah, dan hancur di pecundangi dunia

2.    Latar Belakang – How Could Be ?

Buku ini menjelaskan tentang potret atau gambaran tentang generasi sekarang yang serba enak, serba praktis. Lewat buku ini, penulis berkeinginan untuk bisa memperbaiki nasib generasi muda Indonesia agar tidak menjadi generasi yang cantik tapi lembek.

3.    Ide – What Does The Writer Think ?

Ide penulis dalam buku ini yaitu menggambarkan generasi yang lebih maju dari sebelumnya yang mana ia memiliki segala hal yang menunjang kehidupannya tetapi menjadikan jiwa materialistis selain itu penulis menyampaikan ide bagaimana cara menghadapi tantangan kehidupan bagi generasi yang memiliki mindset rendah.

4.    Metode Penulisan – How does the writer build ?

Buku Strawberry Generation ini ditulis dengan metode kualitatif deskriptif dengan analisis hermeneutis. Metode kualitatif merupakan metode analisis yang berbasis data yang diambil dari fenomena kehidupan manusia yang alamiah dan menggunakan teknik penulisan naratif. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode hermeneutis mendalam untuk menginterpretasikan objek kajian. Hermeneutis biasa dipakai dalam menganalisis teks-teks al-Qur'an, filosofi, dan kesusastraan.

5.    Sumber - Where is the content from ?

Penulis mendapatkan ide-ide yang dituangkan dalam buku ini bersumber pada dua hal dasar. Yakni fakta-fakta yang didapat penulis di lingkungan sekitarnya. Dan juga fakta kebiasaan dari negara lain untuk dibandingkan dengan yang ia temui di lingkungannya.

6.    Tujuan – What Does The Writer Want ?

Dalam buku ini, penulis berharap dg buku ini bisa memperbaiki nasib generasi muda di Indonesia untuk menjadi pribadi yang tidak hanya tampak Indah tapi juga kuat dan tangguh, karena apa yg telah membudaya bisa dirubah jika kita memiliki keyakinan yg kuat untuk bisa merubahnya.

7.    Rekomendasi – Whom Are The Recommended Reader ?

Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan, mulai dari akademisi hingga ibu rumah tangga. Khusunya bagi mereka yang ingin menjadi sosok yang lebih tangguh dan berkarakter kuat.

Mengembalikan Makna Thuma’ninah Dalam Shalat Yang Telah Bergeser


Sumber gambar : risalah islam.com


Masih teringat dalam beberapa kali ramadhan, kita menjumpai banyak media sosial dengan fenomena unik dari beberapa kalangan muslim yang melaksanakan shalat tarawih dengan kecepatan tidak biasa. Tarawih 20 rakaat beserta 3 witir yang biasanya memiliki durasi rata-rata 20-30 menit, bisa melaksanakan lebih cepat, yaitu selama 7 menit. Mungkin persendian dan otot-otot jamaah sudah diberi pelumas sehingga gerakannya bisa secepat itu.

Tentunya dari fenomena tersebut banyak bermunculan pujian dan komentar, bagi saya -canda penulis- usaha jamaah terebut dalam mempercepat durasi shalat adalah usaha yang perlu diapresiasi, karena dapat mengundang tawa dan kelakar. Namun sebagai pelajar sekaligus santri, penulis ingin membahas sebab yang menjadikan shalat bisa secepat kilat. Yaitu ketika seseorang melaksanakan shalat dan tidak memperhatikan salah satu bagian dari shalat itu sendiri, thuma’ninah.

Thuma’ninah merupakan salah satu rukun shalat, apabila seseorang yang meninggalkan satu rukun saja maka sudah dipastikan shalatnya tidak sah. Berbagai kitab fiqh, terutama dalam bab shalat, secara eksplisit menerangkan perihal thuma’ninah sebagai rukun dalam shalat, bahkan dalam kitab fiqh paling dasar pun –Mabadi’ al-Fiqh- meletakkan thuma’ninah beriringan dengan rukun-rukun yang lain. Ruku’ dengan thuma’ninah, i’tidal dengan thuma’ninah, sujud dengan thuma’ninah, dan begitu seterusnya.

            Thuma’ninah dalam Quut al-Habib al-Gharib karya Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, sebuah kitab syarah Fathul Qarib, diartikan dengan assukuunu ba’da al-harakah (tenang setalah bergerak), pemaknaan assukuun sangatlah tepat dengan maksud dari rukun ini. Akan tetapi istilah tersebut telah bergeser dari maksud sebenarnya, seperti halnya istilah fitnah dalam bahasa al-Qur’an (al-Baqarah:218) yang pada mulanya bermakna “ujian”, kini bergeser maknanya menjadi tuduhan yang tidak benar. Adapun makna thuma’ninah pun bergeser maknanya menjadi “berhenti sejenak”.

Dalam rangka mengupayakan agar persoalan thuma’ninah dapat dipahami dengan baik, maka terlebih dahulu mencari makna dasar thuma’ninah. Khusus dalam pembahasan kali ini, penulis berkenan memberikan pertanyaan, bagaimana kata thuma’ninah digunakan dalam al-Qur’an?, apa makna yang ditimbulkan dari penggunaannya?.

            Kata thuma’ninah dalam al-Qur’an dapat ditemui dari berbagai ayat dengan beragam bentuk yang terulang sebanyak 13 kali. Dari sekian banyak pengulangan kata, thuma’ninah seringkali disandingkan dengan kata qolbun (hati). Salah satunya terdapat dalam surat ar-Ra’du ayat 28;

الَّذِيْنَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِاللهِ أَلاَ بِذِكرِاللهِ تَطْمَئِنُّ القُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang beriman  dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah  hati menjadi tentram”

Dalam ayat tersebut, makna thuma’ninah berarti tenang, sedangkan konteks ayatnya berbicara tentang ketenangan hati. Oleh karenanya thuma’ninah adalah ketenangan yang bersumber hati dan didapatkan dengan dzikirullah.

            Berangkat dari pembahasan singkat tersebut, makna “berhenti sejenak” tidak sesuai dengan arti kata thuma’ninah dalam al-Qur’an, yaitu “tenang”. Adapun yang perlu digaris bawahi adalah, makna “berhenti sejenak” –walaupun bukan makna sebenarnya- merupakan implikasi atau bentuk fisik dari sifat tenang, karena orang yang mendapat thuma’ninah (ketenangan hati) akan timbul dalam gerak-geriknya ketenangan pula yang seakan-akan berhenti sejenak. Dalam al-Qur’an surat al-Isra ayat 95;

قُلْ لَو كَانَ فِي لأَرْضِ مَلاَئِكَةٌ يَمْشُوْنَ مُطْمَئِنّيْنَ لَنَزَّلْنَا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّمَاءِ مَلَكًا رَّسُوْلاً

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya di bumi ada para malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.”

            Berbicara tentang thuma’ninah sebagai rukun shalat serta melihat persoalan di atas, ulama fiqh telah memberikan durasi, yaitu sesuai dengan bacaan tasbih, subhanallah. Namun tetap memberi ketentuan lebih mengenai hal tersebut, bahwa bacaan tasbih bukan maksud utama dari thuma’ninah, akan tetapi dengan durasi tasbih tersebut diharapkan dapat menimbulkan ketenangan dalam hati.

Shalat adalah ibadah yang memiliki seperangkat gerakan dan bacaan, dan dari gerakan dan bacaan tersebut diharapkan dapat menimbulkan ketenangan hati, sebagaimana yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Maka hendaknya seseorang melaksanakan shalat dengan thuma’ninah, menghadirkan ketenangan hati melalui bacaan-bacaan dzikir dalam setiap gerakannya. Tidak hanya memahami thuma’ninah secara ringkas –berhenti sejenak- tanpa memahami filosofinya sesuai dengan apa yang telah dipaparkan dalam al-Qur’an. Karena shalat tidak hanya gerakan dan bacaan, akan tetapi shalat juga ketenangan hati.


 

Biodata Penulis

·        Nama               : Fadhil Achmad Agus Bahari

·         TTL                 : Banyuwangi, 17 Agustus 1997

·         Alamat            : Wisma Takmir Masjid At-Tarbiyah Pusat Ma’had Al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

·         No. Telp          : 082234496107

·         Alamat Email : 2016fadhil@gmail.com

·         Pendidikan      :

o  TK. Nahdlatut Thullab Kec. Srono (2002-2004)

o  MI Miftahul Huda Kaligoro Kec. Srono (2004-2007)

o  SDN 1 Kepundungan Kec. Srono (2007-2009)

o  SMPN 1 Genteng (2009-2012)

o  SMA Tahfidz Al-Amien Kab. Sumenep (2013-2016)

o  Prodi Ilmu Al-Qur’an & Tafsir Fakultas Syari’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (2017-sekarang)

 

·  

·