Jumat, 08 September 2017

Krisis Toleransi dalam Masyarakat Majemuk

Krisis Toleransi dalam Masyarakat Majemuk

Oleh: Khulafaur Rosyidin (Murabbi Al Farabi)



Seringkali orang-orang tidak bisa menaruh toleransi kepada individu atau kelompok lain yang berbeda karena menilai sebuah perkara hanya melalui cara berpikirnya, cara pandangnya sendiri.

HI-Seringkali orang-orang tidak bisa menaruh toleransi kepada individu atau kelompok lain yang berbeda karena menilai sebuah perkara hanya melalui cara berpikirnya, cara pandangnya sendiri. persepektif yang tertanam sebagai mindset  tersebut menjadikan mereka seolah-olah pemilik kebenaran mutlak, kemudian melegitimasinya sebagi tolak ukur untuk menilai dan menghakimi orang atau kelompok lain dengan predikat “salah”. Padahal jikalau seseorang mau keluar dari dirinya dan masuk ke dalam diri orang lain, maka dia akan menemukan kecacatan pada dirinya sendiri, bahkan lebih. Secara sederhana, orang perlu berpikir dengan memposisikan diri sebagai orang lain yang mempunyai perspektif kebenaran yang berbeda tentang suatu hal, tentu dia akan melihat dirinya sebagai orang yang menyimpang pula. Maka, ketika kelompok masyarakat syi’ah sampang dihakimi oleh warga dengan dibakar rumahnya dan diusir dari tanah kelahirannya sebab memiliki paham berbeda mengenai agama merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan. Hal ini karena penghakim hanya melihat kebenaran suatu aliran agama berdasarkan perspektif ajaran yang diterimanya saja sehingga menyematkan predikat “salah” dan “sesat” kepada mereka.


Tak seorangpun berhak menghakimi orang lain salah jika hal itu bermuara pada keyakinan. Apalagi jika dasar yang digunakan untuk menilai kebenaran merupakan referensi yang berbeda, niscaya pemahaman yang didapat akan sangat berbeda. Misalnya, kepercayaan tentang tuhan. Kristen dan Katolik dengan rujukan Bible, Islam dengan Alqur’an, Hindhu dengan Weda, Budha dengan Tripitaka, dan Kong Hu Cu melalui Wu Jing, Si Shu, dan Xiao Jing akan menghasilkan pemahaman tentang Ketuhanan yang berbeda-beda. Begitupula dengan kasus kelompok syi’ah dan Sunni di atas, dari terma nama aliran saja sudah berbeda maka sudah barang tentu mereka memiliki referensi beragama yang berbeda dan memunculkan perspektif Islam yang berbeda. Maka salah jika sekelompok lain menghakimi dan saling memberikat cap “bathil” kepada yang lain. Andaikata antar kelompok yang berbeda tersebut didudukkan bersama untuk menemukan titik temu kebenaranpun tidak akan pernah bisa sebab perbedaan rujukan. Oleh karena itu, seyogyanya seseorang melihat dirinya terlebih dahulu melalui kacamata pemahaman orang lain sebelum menghakimi orang lain. Akan lebih baik dalam hal ini jika kita berandai sebagai orang lain dengan beda paradigmanya. Karena, kebenaran pada hakikatnya hanya perlu diyakini sekokoh-kokohnya tanpa memaksakannya kepada orang lain. Laa ikraaha fiddiin (tidak ada paksaan dalam agama) begitulah alquran memberi penjelasan tentang keyakinan.

Secara sederhana penulis hendak menyatakan bahwa memahami perspektif orang lain adalah esensial untuk menumbuhkan rasa toleransi. Orang perlu memahami kebenaran yang diyakini orang lain dengan mengetahui perspektif mereka melalui referensi atau rujukan-rujukan yang mereka pakai. Sebagaimana contoh Kasus Syi’ah sampang, maka orang sunni perlu mempelajari dan memahami dasar rujukan syi’ah tersebut. Said Aqil Siradj pernah berujar yang oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial dalam bukunya “Tasawuf sebagai kritik Sosial” bahwa lahirnya syi’ah dan aliran-aliran lain dalam Islam patut disyukuri sebagai kekayaan khazanah pemikiran Islam. Jika dipahami lebih jernih, pernyataan ini tidaklah kontroversial karena tidak ada salahnya mempelajari keyakinan orang lain sebagai khazanah berpikir moderat dan luas. Dengan mempelajari perspektif aliran-aliran tersebut orang akan semakin merentangkan wawasan pengetahuan keagamaannya yang bermuara pada kokohnya keyakinan yang dimiliki. Orang tidak hanya tahu kabar buruk suatu aliran saja, apalagi hanya lewat cerita saja, hingga mendapatkan kesimpulan bahwa paham selainnya adalah sesat dan menyesatkan. Selain itu, dengan wawasan tersebut orang akan memahami kehendak orang lain yang tidak seragam dengannya. Kepahaman yang diperoleh terhadap keragaman kehendak tersebutlah yang kemudian membangun toleransi antar kelompok yang berbeda. Contoh sederhana, bagi anak kecil kegemaran memainkan mobil remote kontrol merupakan kebahagiaan yang tidak terkira karena orientasi kebahagian mereka adalah bermain. Berbeda dengan orang dewasa yang setiap hari tidak bosan-bosannya bekerja menjalankan bisnisnya karena ukuran kebahagiaan mereka adalah banyaknya uang dan harta. Dari sini, bisa dipahami bahwa referensi kebahagiaan mereka sangatlah berbeda walaupun muara tujuannya sama pada kebahagiaan, namun orang dewasa tidak serta merta menilai perspektif anak kecil adalah salah dan sesat lalu memaksakan perspektif ukuran kebahagiannya kepada mereka, apalagi sampai menghajar mereka. Sebab, orang dewasa menaruh toleransi yang tinggi kepada anak kecil dan mungkin menunggu sampai mereka dewasa dan mengerti sendiri kebahagian dengan ukuran materi.

Gus Durpun pernah menyatakan bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, maka semakin tinggi rasa toleransinya. Toleransi akan semakin dijunjung tinggi manakala orang telah banyak membaca dan mengetahui keberagaman pespektif orang lain. 

Orang akan semakin mudah bertoleransi ketika dia telah mengetahui bahwa orang lain memiliki tolak ukur yang berbeda terhadap suatu kebenaran. Ia akan menjadi sadar bahwa kebenaran yang diterimanya bukanlah satu-satunya kebenaran dalam kacamata umum. Kebenaran yang disandangnya akan disadarinya bersifat relatif sehingga pengakuan label kebenaran hakiki dan mutlak hanya untuk Tuhan saja.

picture from google.com
Previous Post
Next Post

0 komentar: