Jumat, 08 September 2017

God Spot: yang Diingatkan oleh-Nya

God Spot: yang Diingatkan oleh-Nya


oleh : Jemmima Azmi A(Musyrifah FAZA)



"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. 
(QS. Al Araaf:205)


HI-Kita sebagai mansusia diciptkan oleh-Nya sebagai khalifah di muka bumi (2:30). Akan tetapi menjadi khalifah bukanlah sebagai sosok yang tertinggi dan berkuasa di bumi ini. Seperti halnya yang salah dipahami oleh mereka yang berpikiran sempit menafsirkan khalifah pada ayat tersebut. Lantas, jika manusia telah sadar bahwa dirinya sebagai khalifah, apa yang harus dilakukan? Pantaskah jika ia berbangga diri dan melupakan bahwa ada Dzat yang Maha Kuasa telah menjadikannya menjadi khalifah? Bukankah setiap manusia adalah Khalifah, lantas apa yang harus dibanggakan jika setiap orang berada dalam tingkatan yang setara?

Dari pertanyaan diatas, kita dapat menjawab serta menarik kesimpulan bahwa sebagai manusia hendaklah selalu bersikap rendah hati, sadar akan posisi dirinya yang lemah di hadapan-Nya. Dengan selalu mengingatNya disetiap helaan nafas adalah hal yang paling kecil akan kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Penciptanya. Karena segala hal bahkan dari yang paling kecil adalah kuasa dan kehendak-Nya. Berangkat dari hal yang paling kecil tersebut lah, para peneliti menemukan sebuah syaraf pada otak yang berperan penting dalam kecerdasan spiritual manusia. Sering kali kita bertanya tentang eksistensialisme Tuhan dengan penalaran yang sempit, atau tingkat religious kita tiba-tiba meningkat, bahkan kita merasa jauh dariNya, hati dan pikiran hampa dengan alasan yang rendah rasionalitasnya. Hal tersebut sinkron dengan hasil penelitian tentang syaraf yang berperan dalam kecerdasan spiritual. Setiap manusia memiliki syaraf tersebut yang disebut dengan God spot atau Titik Tuhan. God Spot adalah salah satu titik di dalam otak manusia yang berhubungan dengan eksistensialisme Ketuhanan. Dengan kata lain, terdapat syaraf kecil di dalam otak manusia yang dapat merespon terhadap aspek agama dan Ketuhanan. God spot merupakan syaraf yang terdapat di Lobus Temporal. Seperti halnya system syaraf yang lain, ia memberikan kemampuan khusus terutama dalam konteks spiritual. 

Pernahkah kita bertanya dimanakah Tuhan berada? Dapatkah aku menjumpai Sosok yang menciptakan aku? God spot lah yang mempengaruhi otak manusia berpikir seperti itu. karena tak bisa dipungkiri bahwa setiap amnesia pernah bertanya tentang eksistensalisme Tuhan pada alam ini. Dean Hammer menyatakan bahwa gen manusia  sudah membawa pesan tentang adanya Tuhan. Pada aspek kesehatan, Tuhan harus difahami dalam konteks empiric, yaitu seseorang dapat merasakan bahwa di setiap langkahnya, di setiap sel darah yang mengalir di dalam pembuluh darahnya, dan di setiap unsur kimia yang bekerja secara dinamis dalam dirinya, Tuhan senantiasa hadir dan ada. Hal tersebut akan semakin kuat jika kemampuan God spot pun semakin meningkat.

Lantas bagaimana untuk meningkatkan kecakapan dari system God spot? Yaitu dengan memberikan stimulus terhadap pikiran untuk selalu berdzikir (mengingat) Allah. Hal tersebut juga menjadikan kinerja God Spot kian kompleks. Menurut penilitian, meskipun syaraf ini tidak selalu teraliri darah, namun tidak pernah mati. Syaraf ini dianalogikan seperti sebuah chip yang diselipkan Allah pada otak manusia untuk mendeteksi hal-hal yang berhubungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari sang pencipta.

Pada intinya, sebagai seorang hamba, mutlak bagi kita untuk selalu berdzikir kepada Allah, yang telah mempercayai kaum kita sebagai khalifah di alam ini. Menjaga keseimbangan dan kebaikan alam yang telah diatur oleh-Nya.  Dengan selalu mengingat, God Spot pada otak ini akan semakin menuju kesempurnaan sistemnya, berepengaruh positif terhadap kehidupan seperti memberi ketenangan dan memudahkan mencari sebuah penyelesaian. Dengan mengingat Allah pula, kita mampu untuk selalu berintropeksi diri apakah telah menjalankan amanah dari-Nya yang menjadi alasan kita menjadi penghuni alam semesta ini. 

Penemuan God Spot oleh para peneliti tersebut membuktikan bahwa Allah memberikan koneksi terhadap hamba-Nya untuk selalu mengingat dan dekat dengan-Nya. Setiap aliran darah dan detak jantung manusia telah Allah atur sedemikian rupa, jika God Spot mengalami peningkatan kualitas, maka seluruh aktivitas tubuh manusia berjalan dengan berdzikir kepada-Nya. Bukankah Allah telah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk ber-taqarrub kepada-Nya? Oleh karena itu, meskipun setiap manusia memiliki god spot pada otaknya, hal tersebut tidak menjanjikan ia akan dekat dengan Tuhan-Nya. 

"Bahkan orang atheis pun dianugerahi Allah dengan God Spot, tetapi ia tidak menggunakannya dengan baik. Karena mendekatkan diri kepada Allah ialah sebuah proses dan usaha bukan sebuah keajaiban. "

picture from google.com 

Previous Post
Next Post

0 komentar: